Tanggap Bersosial Media


Tanggap Bersosial Media


        
            Tengoklah zaman era penjajahan, tepatnya beratus-ratus tahun silam. Sungguh dunia telah bermutasi berkali lipat. Perekonomian, politik dan pemerintah, kepercayaan, pendidikan, etika, pola pikir, pun komunikasi. Berubah seiring adanya ilmu pengetahuan. Berkembang dengan bantuan teknologi, globalisasi katanya. Namun akan seperti apakah peradaban nanti? Akan menjadi seperti apakah teknologi nantinya? Mungkin saja kita dapat berkirim pesan hanya melalui “pikiran” saja, tak perlu repot untuk mengetikkan pada keyboard di smartphone canggih kita saat ini. Tidak ada yang tahu pastinya, selain yang menggerakkan alam semesta ini. Masa depan memang penuh misteri. Bisa menakjubkan, bisa juga mendukakan. Namun bagaimanapun nantinya, kewaspadaan haruslah ada. Kita harus siap dengan tantangan masa depan yang akan memanggil.

Berbicara mengenai tantangan, tentunya banyak tantangan terutama tantangan masa depan yang mau tak mau akan berjumpa, atau mungkin sudah tiba di depan pintu. Salah satu yang sudah menjadi tantangan bagi dunia saat ini ialah bersosial media. Isu ini penting karena siapa pun kita pasti tidak mungkin terhindar dari dunia maya. 



Mengapa demikian ? Bersosial media memiliki sifat yang tidak lain merupakan sifat dari tantangan masa depan tersendiri. “Lah, emangnya tantangan masa depan punya sifat ?” Yap, ada. Konsep VUCA, namanya. Konsep VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) ini berbicara mengenai peristiwa yang terus berubah dan penuh dengan ketidakpastian. Mungkin istilah ini masih asing di telinga. Tapi tenang, paragraf di bawah ini mungkin dapat membantu teman-teman agar lebih familiar. 



Dulu, berkomunikasi lewat telepon hanya dimiliki oleh kaum elit, namun tidak berlaku lagi sekarang. Semua dapat mengaksesnya dengan mudah. Tentunya itu karena efek globalisasi, terima kasih kepada perkembangan teknologi. Komunikasi telah mengalami perubahan yang signifikan, ditandai dengan kemudahan dalam mencari maupun menyebarkan informasi lewat sosial media yang kita miliki. Ini merupakan sifat dari Volatility. Namun, jangan dulu menganggap semua perubahan ini baik. Memang baik, tetapi tentu saja karena dunia ini selalu seimbang, tentu ada keburukan yang ditimbulkannya. Misalnya ada saja yang tidak bijak dalam bersosial media, asal menyebarkan informasi tanpa mengetahui kebenarannya. “Sebarkan satu pesan, percayalah dunia dapat terguncang!”. Tentu informasi yang tersebar tanpa kebenaran maupun tanpa pertanggung jawaban bisa menjadi umpan balik bagi si penyebar, bahkan bisa membahayakan masyarakat lainnya. Kita tidak akan pernah tau dampak yang bisa timbul dari hal sepele yang kita sebarkan melalui sosial media. Bisa saja orang lain merasa tersinggung, menyebabkan keributan. Atau bisa saja hal itu malah membuat mental orang lain manjadi terganggu, seperti membahayakan mental health



Tentu semua kemungkinan bisa terjadi, hal ini menjadikannya tidak pasti. Ketidakpastian ini merupakan sifat dari Uncertainty. Kemudian, kebebasan berkomunikasi pun telah nyata adanya. Siapa pun dapat berbicara dan berpendapat, tak terkendali. Hal itu menjadikan segala informasi dapat tersebar begitu cepat. “Sebarkan satu pesan, percayalah dunia dapat terguncang!” Benar,  informasi yang kita sebarkan bisa diakses oleh siapa pun dan kapan pun, dari Jakarta ke Amerika, baik malam maupun pagi. Bayangkan saja ada orang yang menyebarkan satu saja berita. Seribu orang yang mengomentarinya, kemudian menyebarluaskan lewat sosial medianya masing-masing. Tentulah semudah itu memviralkan informasi. Apalagi jika beritanya yang memang sedang menjadi perbincangan hangat. Bukankah hebat perkembangan informasi saat ini? Ini yang dinamakan Complexity, yakni terhubung begitu luas dan begitu kompleks. Selanjutnya, kita beralih ke informasi yang sudah beredar di sosial media. Andaikan sudah ada ratusan orang berpendapat mengenai suatu isu, namun beberapa pendapat mereka tak sejalan. Bahkan ada pula yang bersebrangan. Ingat pula bahwa cara pandang tiap oranag berbeda satu sama lain. Bisa saja ada yang salah menangkap informasi yang ada. Ini tentu menimbulkan kebingungan bagi yang mengaksesnya. Mungkin saja hal tersebut dapat berakhir dengan kericuhan. Lantas, manakah yang dapat dipercaya? Berita A atau B? Ini yang dinamakan Ambiguity.



Namun tentu semua tantangan itu perlu pengendali, bukan? Tidak mungkin dibiarkan sembuh sendirinya. Kali ini, teman-teman bisa mencoba strategi jitu untuk menghadapi tantangan bersosial media. Teman-teman bisa menerapkan strategi yang dikenal dengan istilah Alpine Style Model. Strategi ini sangat simpel, hanya terdiri dari 3 tahapan saja. Pertama adalah Skills. Tahapan ini dilakukan dengan memanfaatkan potensi teman-teman, tentunya bisa disesuaikan dengan profesi masing-masing. Misalkan jika teman-teman seroang pelajar atau mahasiswa, teman-teman harus segera peka terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Berusaha untuk memiliki pikiran yang terbuka dan tidak mudah untuk menerima mentah-mentah informasi yang ada. Tak lupa juga untuk bersikap kritis dalam bersosial- media. Kemudian barulah teman-teman bisa bertindak selanjutnya atas informasi yang sudah didapat tadi. Tahapan yang kedua adalah Insights. Pada tahapan ini, teman-teman bisa mencari dahulu kebenaran dari informasi yang didapat tadi. Jangan sampai malah menyebarkan informasi yang salah, karena hal itu dapat merugikan teman-teman sendiri nantinya. Apabila teman-teman menyadari bahwa ada kejanggalan informasi yang sedang beredar, segera mungkin untuk mengedukasi kebenaran yang ada. Jangan sampai berita yang janggal atau kurang tepat itu terus tersebar-luas. Juga pahami betul-betul dampak apa yang timbul dari aktivitas sosial media yang akan dilakukan. Usahakan untuk tidak menimbulkan implikasi yang buruk bagi yang mengakses. Tahapan yang terakhir adalah Traits. Kali ini, teman-teman harus menerapkan growth mindset. Intinya, dalam bersosial media, perlu ditanamkan rasa ingin tahu dalam mencari kebenaran dari informasi yang ada. Jangan pernah bosan untuk berpikir selangkah lebih depan. Kemudian, tak lupa untuk menerapkan serta membagikan kebiasaan bersosial media yang baik dengan orang lain, bisa dimulai dari lingkup kecil seperti keluarga maupun kerabat. Langkah kecil yang dilakukan oleh teman-teman tentunya sangat berarti bagi perkembangan sosial media nantinya. Ingatkah pada pernyataan di awal tulisan mengenai ingin seperti apakah peradaban kita nantinya? Apakah ingin menyapa hal yang menakjubkan atau berserah menerima hal yang mendukakan? Itu semua tentunya bergantung dari tindakan kita dalam bersosial media.


Komentar

Posting Komentar