Tanggap Bersosial Media
Tanggap Bersosial Media
Berbicara mengenai tantangan,
tentunya banyak tantangan terutama tantangan masa depan yang mau tak mau akan
berjumpa, atau mungkin sudah tiba di depan pintu. Salah satu yang sudah menjadi
tantangan bagi dunia saat ini ialah bersosial media. Isu ini penting karena
siapa pun kita pasti tidak mungkin terhindar dari dunia maya.
Mengapa demikian ? Bersosial
media memiliki sifat yang tidak lain merupakan sifat dari tantangan masa depan tersendiri.
“Lah, emangnya tantangan masa depan punya
sifat ?” Yap, ada. Konsep VUCA,
namanya. Konsep VUCA (Volatility,
Uncertainty, Complexity, Ambiguity) ini berbicara mengenai peristiwa yang
terus berubah dan penuh dengan ketidakpastian. Mungkin istilah ini masih asing
di telinga. Tapi tenang, paragraf di bawah ini mungkin dapat membantu teman-teman
agar lebih familiar.
Dulu, berkomunikasi lewat telepon hanya dimiliki oleh kaum elit, namun tidak berlaku lagi sekarang. Semua dapat mengaksesnya dengan mudah. Tentunya itu karena efek globalisasi, terima kasih kepada perkembangan teknologi. Komunikasi telah mengalami perubahan yang signifikan, ditandai dengan kemudahan dalam mencari maupun menyebarkan informasi lewat sosial media yang kita miliki. Ini merupakan sifat dari Volatility. Namun, jangan dulu menganggap semua perubahan ini baik. Memang baik, tetapi tentu saja karena dunia ini selalu seimbang, tentu ada keburukan yang ditimbulkannya. Misalnya ada saja yang tidak bijak dalam bersosial media, asal menyebarkan informasi tanpa mengetahui kebenarannya. “Sebarkan satu pesan, percayalah dunia dapat terguncang!”. Tentu informasi yang tersebar tanpa kebenaran maupun tanpa pertanggung jawaban bisa menjadi umpan balik bagi si penyebar, bahkan bisa membahayakan masyarakat lainnya. Kita tidak akan pernah tau dampak yang bisa timbul dari hal sepele yang kita sebarkan melalui sosial media. Bisa saja orang lain merasa tersinggung, menyebabkan keributan. Atau bisa saja hal itu malah membuat mental orang lain manjadi terganggu, seperti membahayakan mental health.
Tentu semua kemungkinan
bisa terjadi, hal ini menjadikannya tidak pasti. Ketidakpastian ini merupakan
sifat dari Uncertainty. Kemudian,
kebebasan berkomunikasi pun telah nyata adanya. Siapa pun dapat berbicara dan berpendapat,
tak terkendali. Hal itu menjadikan segala informasi dapat tersebar begitu
cepat. “Sebarkan satu pesan, percayalah
dunia dapat terguncang!” Benar, informasi
yang kita sebarkan bisa diakses oleh siapa pun dan kapan pun, dari Jakarta ke
Amerika, baik malam maupun pagi. Bayangkan saja ada orang yang menyebarkan satu
saja berita. Seribu orang yang mengomentarinya, kemudian menyebarluaskan lewat
sosial medianya masing-masing. Tentulah semudah itu memviralkan informasi.
Apalagi jika beritanya yang memang sedang menjadi perbincangan hangat. Bukankah
hebat perkembangan informasi saat ini? Ini yang dinamakan Complexity, yakni terhubung begitu luas dan begitu
kompleks. Selanjutnya, kita beralih ke informasi yang sudah beredar di sosial
media. Andaikan sudah ada ratusan orang berpendapat mengenai suatu isu, namun
beberapa pendapat mereka tak sejalan. Bahkan ada pula yang bersebrangan. Ingat
pula bahwa cara pandang tiap oranag berbeda satu sama lain. Bisa saja ada yang
salah menangkap informasi yang ada. Ini tentu menimbulkan kebingungan bagi yang
mengaksesnya. Mungkin saja hal tersebut dapat berakhir dengan kericuhan.
Lantas, manakah yang dapat dipercaya? Berita A atau B? Ini yang dinamakan Ambiguity.
Namun tentu semua tantangan itu
perlu pengendali, bukan? Tidak mungkin dibiarkan sembuh sendirinya. Kali ini,
teman-teman bisa mencoba strategi jitu untuk menghadapi tantangan bersosial
media. Teman-teman bisa menerapkan strategi yang dikenal dengan istilah Alpine Style Model. Strategi ini sangat
simpel, hanya terdiri dari 3 tahapan saja. Pertama adalah Skills. Tahapan ini
dilakukan dengan memanfaatkan potensi teman-teman, tentunya bisa disesuaikan
dengan profesi masing-masing. Misalkan jika teman-teman seroang pelajar atau
mahasiswa, teman-teman harus segera peka terhadap perubahan lingkungan yang
terjadi. Berusaha untuk memiliki pikiran yang terbuka dan tidak mudah untuk
menerima mentah-mentah informasi yang ada. Tak lupa juga untuk bersikap kritis
dalam bersosial- media. Kemudian barulah teman-teman bisa bertindak selanjutnya
atas informasi yang sudah didapat tadi. Tahapan yang kedua adalah Insights.
Pada tahapan ini, teman-teman bisa mencari dahulu kebenaran dari informasi yang
didapat tadi. Jangan sampai malah menyebarkan informasi yang salah, karena hal
itu dapat merugikan teman-teman sendiri nantinya. Apabila teman-teman menyadari
bahwa ada kejanggalan informasi yang sedang beredar, segera mungkin untuk
mengedukasi kebenaran yang ada. Jangan sampai berita yang janggal atau kurang
tepat itu terus tersebar-luas. Juga pahami betul-betul dampak apa yang timbul
dari aktivitas sosial media yang akan dilakukan. Usahakan untuk tidak
menimbulkan implikasi yang buruk bagi yang mengakses. Tahapan yang terakhir
adalah Traits. Kali ini, teman-teman harus menerapkan growth mindset. Intinya, dalam bersosial
media, perlu ditanamkan rasa ingin tahu dalam mencari kebenaran dari informasi
yang ada. Jangan pernah bosan untuk berpikir selangkah lebih depan. Kemudian,
tak lupa untuk menerapkan serta membagikan kebiasaan bersosial media yang baik
dengan orang lain, bisa dimulai dari lingkup kecil seperti keluarga maupun
kerabat. Langkah kecil yang dilakukan oleh teman-teman tentunya sangat berarti
bagi perkembangan sosial media nantinya. Ingatkah pada pernyataan di awal
tulisan mengenai ingin seperti apakah peradaban kita nantinya? Apakah ingin
menyapa hal yang menakjubkan atau berserah menerima hal yang mendukakan? Itu
semua tentunya bergantung dari tindakan kita dalam bersosial media.







Wahh, keren tulisannya :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus